Wednesday, October 29, 2014

Tafsir Surah Al Adiyat Ibnu Arabi

1. Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
3. dan kuda yang menyerang tiba-tiba di waktu pagi,
4. maka ia menerbangkan debu,
5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,

Wa al-adiyat (Demi kuda perang yang berlari kencang–ayat 1). Jelasnya, demi jiwa-jiwa yang berupaya keras dalam menempuh jalan Allah. Mereka seperti lari kencang karena cepatnya perjalanan mereka dan latihan-latihannya, serta kesungguhannya dalam upaya keras seperti kuda perang yang lari kencang. Jiwa-jiwa itu “terengah-engah” karena demam rindu.

Fa al-muriyati qadha (dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan [kuku kakinya]–ayat 2). Lalu jiwa-jiwa itu mencetuskan api dengan “korek” berbagai buah perjuangan ruhani, menyibukkan diri dengan cahaya akal aktif, memantikkan korek kontemplasi dan mensistemisasikan berbagai pengetahuan dengan pikiran.

Fa al-mughirat shubha (dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi–ayat 3). Lalu jiwa-jiwa itu menyerang bagian-bagian luar yang terpaut dengan dirinya, seperti hal-hal yang bersifat kebendaan, dan juga bagian-bagian dalamnya seperti bentuk-bentuk sifat jiwa, dampak-dampak perbuatan dan kecenderungan syahwat, bisikan wahm dan khayalan, dengan “cahaya subuh” penampakan diri Ilahi (tajalli), dan efek-efek terbitnya cahaya dan prinsip-prinsip penempuhan ruhani, seperti pemusatan diri kepada-Nya semata (tajrid).

Fa atsarna bihi naq’a (maka ia menerbangkan debu–ayat 4) dengan cahaya tajalli itu dan “subuh” hari kiamat besar; serta dengan debu “tanah” tubuh yang telah dihaluskan oleh riyadhah (latihan ruhani), dilembutkan oleh pencegahan tubuh untuk menikmati jatah-jatahnya karena tawajjuh kepada Al-Haqq semata, menghadap kepada-Nya dengan gelora cinta, resah gelisahnya daya-daya jiwa dalam mengikuti hati dan ruh, juga karena sibuknya jiwa menerima berbagai cahaya. Tentang penghalusan debu “tanah” itu, orang-orang Arab biasa berkata : Dia telah menghamburkan debu-debu seseorang. Maksudnya, dia telah membinasakannya dan menjadikannya seperti debu dalam kemusnahan.

Fa wasathna bihi (dan menyerbu ke tengah-tengah–ayat 5) hakikat Dzat dengan “subuh” dan cahayanya itu, lalu ia hanyut di dalam-Nya. Lebih jelasnya, jiwa-jiwa itu melembutkan kekasaran “tanah” tubuh sampai menjadi debu dalam hal kehalusannya, lalu dengan debu yang amat halus itu jiwa menembus Kesatuan Dzat. Hal ini karena sesungguhnya pencapaian (kepada Kesatuan itu) hanya mungkin dengan tubuh, seperti mi’rajnya Rasulullah Saw yang sesungguhnya bermi’raj dengan tubuhnya pula. Tegasnya, jiwa-jiwa (seperti itulah) yang tahu dan beramal, yang meninggalkan segala yang patut ditinggalkan dan menarik diri sepenuhnya dari segala sesuatu selain Allah dengan pertolongan cahaya Allah, yang menghaluskan tubuh dengan riyadhah sehingga akhirnya sampai kepada-Nya.

6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,
11. sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

Inna al-insana li rabbihi lakanud (Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya–ayat 6) Allah bersumpah dengan kehormatan orang-orang yang bersyukur atas berbagai nikmat-Nya, yang sampai ke haribaan-Nya melalui perantaraan nikmat-nikmat itu; bersumpah bahwa sesungguhnya manusia kufur kepada Tuhannya karena terhijab oleh berbagai nikmat itu, karena hanyut dalam gelimang nikmat itu dan tak pernah memakainya untuk keperluan mencapai-Nya.  

Wa innahu ‘ala dzalika lasyahid (dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan [sendiri] keingkarannya–ayat 7); karena dengan pengetahuannya tentang keterhijaban dirinya, kesaksian akal dan cahaya fitrahnya, sebenarnya ia tahu bahwa dirinya tidak memenuhi hak-hak nikmat Allah, dan bersambalewa (lalai) di sisi Allah karena kekufurannya.

Wa innahu li hubb al-khairi la syadid (Dan sesungguhnya manusia sangat bakhil karena cintanya kepada harta–ayat 8) Jelasnya, sesungguhnya ia sangat cinta dunia dan karenanya ia sangat bakhil. Karena itu, ia terhijab oleh harta itu, membanting tulang (memutar otak) untuk meraih dan mengumpulkannya serta enggan bersedekah; Terabaikan olehnya dari Al-Haqq dan berpaling dari sisi-Nya. Atau ayat ini bisa juga berarti : Sesungguhnya ia sangat berpegang teguh (munqabidh) pada kebaikan yang mengantarkannya kepada Al-Haqq, tanpa sikap lembek dan kenal kompromi (munbasith).

Afala ya ‘lamu idza bu tsira ma fi al-qubur wa hushshila ma fi al-shudur (Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada–ayat 9-10) Maksudnya, setelah keterhijaban dan pelanggaran akal ini, apakah ia masih tidak tahu juga dengan cahaya fitrah dan kekuatan akalnya tentang apa yang ada di dalam “kubur” tubuhnya ketika dibangkitkan, berupa jiwa-jiwa dan ruh? Dan ketika ditampakkan apa yang dikandung dada atau hati berupa bentuk-bentuk amal, sifat, rahasia, niat yang tersembunyi.

Inna rabbahum bihim yaumaidzin la khabir (Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka–ayat 11); Maha Tahu rahasia mereka, hati, amal batin dan amal lahir. Lalu mereka akan dibalas sesuai dengan perhitungan-Nya yang adil. Wallahu a’lam.


(* Sumber : Isyarat Ilahi, Tafsir Juz Amma Ibn Arabi).
* Catatan Tafsir Juz Amma Ibnu Arabi yang lainnya, berjudul :
[1] Tafsir Surah Adh-Dhuha | Tafsir Juz Amma Ibnu Arabi
[2] Tafsir Surah Al- A’la | Tafsir Juz Amma Ibnu Arabi

Monday, May 26, 2008

That meat ..

He would claimed that "he's the man!"
and it's about that meat..
No pain now, but major sin to be gained..
It make he feel that he's really GREAT, MAN!!"
and with THAT MEAT..fell into the devil's masterplan..
to the time of lust..
with illegitimate women, men or some he called friend..

and Of THAT MEAT...

And of the woman that sell..(though indirectly)
Proudly shows her MEAT and tells..
Of she have plenty under her spell..
of the men that she made fell..

AND THAT MEAT..

Till the day both will realize well..
The Meat that been used will be FRIED..BURN, CUT BY PIECES,TORTURED AND TORMENTED AND THEN AGONIZE
BOTH ARE NOT DEAD NEITHER ARE ALIVE..
YES THAT MEAT WILL NOT SURVIVE...

Wednesday, March 26, 2008

Some facts about different religions

Judaism:

The word 'Bible' is not in the Bible. Moses (PBUH) didn't have any idea about the Bible either! He never preached any religion by the name of 'Judaism'. The word 'Judaism' doesn't even exist in the Bible! If that is the case then where did the words like 'Judaism' and 'Bible' come from? And what religion did Moses preach? If it was not Islam then what is?

Christianity:

The word 'New Testament' is not in the New Testament. Jesus (PBUH) didn't have any idea about the New Testament either! He never preached any religion by the name of 'Christianity'. The word 'Christianity' doesn't exist anywhere in the Bible or New Testament! Even Jesus never heard the word 'Jesus' during his lifetime! He never preached absurd Trinity (Father, Son and Holy Ghost)! The word 'Trinity' doesn't exist in the New Testament. Jesus never claimed to be God or the begotten Son of God. It is also an absurdity! He never told his followers to worship him. In fact he used to pray to God. Where did the words like 'Christianity', 'New Testament' and 'Trinity' come from then? And what religion did Jesus preach? If it was not Islam then what is?

Hinduism:

The word 'Rig-Veda' is not in the Rig-Veda. The word 'Bhagavad-Gita' cannot be found in the Bhagavad-Gita. The words 'Hindu', 'Hinduism' and 'Sanatana Dharma' do not exist in the Vedas and Bhagavad-Gita. Sri Ram or Sri Krishna never preached any religion by the name of 'Hinduism' either. None of them claimed to be the Creator of the Universe in human form. It is also an absurdity! Sri Ram didn't have any idea about Ramayana. Similarly, Sri Krishna didn't have any idea about Mahabharata and Bhagavad-Gita. The concept of 'Avatar' (God in human form) and 'Samsara' (cycles of birth and death) do not exist in the Vedas. So, where did the words like 'Hindu', 'Hinduism', 'Vedas', 'Bhagavad-Gita', etc. come from? And what religion did Ram and Krishna preach? If it was not Islam then what is?

Buddhism:

The word 'Tripitaka' is not in the Tripitaka. The words 'Buddhism' and 'Buddhist' do not exist in the Tripitaka either. Buddha never preached any religion/philosophy by the name of 'Buddhism'. If so, then where did the words like 'Tripitaka' and 'Buddhism' come from?

Islam:

The words 'Islam', 'Quran' and 'Muslim' do exist in the Quran [2:185; 4:82; 5:3; 2:128; 2:131; etc.]. Muhammad (PBUH) did indeed claim to be a Messenger of God - a logical and rational claim. He also preached a religion by the name of 'Islam' (Peace and Submission to God). Quran was also written down during his lifetime under his supervision. Now, if all the religious scriptures are considered to be divine, for the sake of argument, then Islam will be the only divine Religion in the World [Quran 3:19; 3:85]. This is the fact and reality - believe it or not! There is NO compulsion in religion [Quran 2:256; 109:6; 6:104; 18:29; 10:99; 17:15; 76:3].


"The future religion of the educated, cultured and enlightened people will be Islam"

GEORGE BERNARD SHAW
-- George Bernard Shaw

Tuesday, March 11, 2008

Re: Balasan: [Islamic-ebook] RE: Assalamu'alaikum... PERSOALAN DI MANA ALLAH ?

sahabat com
Tue, Mar 11, 2008 at 3:15 PM
Reply-To: Islamic-ebook@yahoogroups.com
To: Islamic-ebook@yahoogroups.com
Assalaamualaikum,

Terlebih dahulu izini saya untuk mengulas tentang isu ini yang hangat dibincangkan ketika ini. Seingat saya, isu ini telahpun dibincangkan sebelum ini, tetapi saya kurang pasti kenapa ia ditimbulkan semula. Justeru itu, izini saya memberikan sedikit input untuk makluman kita semua.

Sememangnya terdapat perbezaan pendapat di kalangan ulama mengenai isu ini. Di dalam kitab aqidah golongan salaf (1) sememangnya dibincangkan secara khusus bab Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW kerana bab tersebut sememangnya termasuk dalam bab aqidah. Sebahagian ulama berpendapat Rasulullah SAW tidak melihat Tuhannya berdasarkan hadis ‘Aisyah. Sebahagian ulama yang lain berpendapat Rasulullah SAW pernah melihat Tuhannya berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas dan dikuatkan oleh pandangan Al-Hasan. Walaubagaimanapun, perlu dijelaskan bahawa Allah Taala tidak tertakluk kepada ruang, tempat, masa, sukatan, dan lain-lain lagi kerana Dialah yang menciptakan semua itu, mustahil Dia tertakluk kepada semua itu. Justeru hakikat melihat itu kita serahkanlah kepada Allah bersesuaian dengan pendekatan tafwid yang diamalkan oleh golongan salaf. (1).

Dalil yang dipegang oleh golongan yang mengatakan Rasulullah SAW tidak melihat Tuhannya ialah seperti berikut:-

Diriwayatkan dari Masruq, katanya:”Saya berkata kepada Aisyah r.’anha : Ya Ummul mukminin benarkah Nabi Muhammad SAW pernah melihat Tuhannya?. Aisyah menjawab yang ertinya:

“Benar-benar telah berdiri tegak bulu roma ku kerana mendengar apa yang engkau katakana itu. Hati-hatilah engkau dari tiga hal ini.

Barangsiapa yang memberitahukan padamu tentang tida hal ini, pastilah ia berdusta:

Barangsiapa yang memberitahu padamu bahawasanya Muhammad SAW pernah melihat Tuhannya ia pasti berdusta. Aisyah r.a. lalu membacakan ayat :

Al-An’am ayat 103

103. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.

“Barangsiapa yang memberitahukan padamu bahawa ia dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari, pastilah ia berdusta”. Aisyah r.anha membaca ayat :

Surah Luqman ayat 34

34. Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Barangsiapa yang mengatakan padamu bahawa dia (Rasulullah SAW) menyembunyikan sedikitpun dari wahyu, maka pastilah ia berdusta.” “’Aisyah r.’anha lalu membaca ayat:

Surah Al-Maidah ayat 67

67. Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

[430] Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Tetapi dia (Rasulullah SAW) pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak 2 kali”.

Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmizi


Dalil yang digunakan oleh Ulama yang mengatakan Rasulullah SAW melihat Allah adalah seperti berikut:-

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan dikuatkan oleh pendapat Al-Hasan seperti berikut:

Ibnu Abbas r.huma. berpendapat, juga beberapa golongan ulama, Nabi Muhammad SAW itu dapat melihat Tuhannya pada waktu Isra’ dan Mi’raj. Ibnu Abbas r.huma, dalam mengupas firman Allah SWT dalam surah Al-Isra’ ayat 60 seperti berikut:

60. “Dan (ingatlah), ketika kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". dan kami tidak menjadikan penglihatan yang Telah kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran dan kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.”

Menurut Ibnu Abbas r.’anhuma: “Pemandangan yang (boleh membawa fitnah) dimaksudkan itu ialah penglihatan yang diperlihatkan kepada Rasulullah SAW di malam beliau SAW diisra’kan untuk “menghadap” Allah Taala.”

Riwayat oleh Bukhari

Al Hasan sendiri bersumpah bahawasanya Rasulullah SAW pernah melihat Tuhannya.

Dalam pada itu, untuk mengelakkan salah faham di kalangan orang awam, perlu dijelaskan mengikut aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, bahawa Allah Taala tidak tertakluk kepada ruang, tempat, masa, ukuran dan sebagainya kerana Dialah yang menciptakan semuanya itu, mustahil Dia tertakluk kepada semua itu. Justeru itu, janganlah difikirkan dengan aqal hakikat melihat yang dijelaskan dalam hadis di atas. Sebaliknya, serahkanlah kepada Allah SWT bersesuaian dengan pendekatan tafwid golongan salaf(1) seperti yang telah dibincangkan di atas dan semasa kita membincangkan aqidah golongan salaf sebelum ini.


Sekian, wassalam

A. Hanif


Nota kaki:

(1) Salaf dalam bahasa Arab ertinya ialah terdahulu, atau meminjamkan wang kepada seseorang, atau membiarkan tanah untuk persemaian benih dan sebagainya. Manakala dari sudut istilah (aqidah), salaf bermaksud orang-orang Islam yang pertama atau terdahulu yang semasa dengan Rasulullah SAW, para sahabat, para tabiin dan tabi’ tabi’in yang mendalam keagamaannya lagi soleh yang mengambil pendirian tafwid (menyerahkan kepada Allah makna bagi ayat-ayat yang bersifat Mutasyaabihat). Golongan ini hidup dalam tiga kurun pertama Hijrah (sehingga 300 Hijrah). Ini bersesuaian dengan hadis riwayat Jabir al-Zarqani yang bererti:

“Abad yang sebaik-baiknya adalah abadku, kemudian abad berikutnya, dan kemudian abad berikutnya.”

Di dalam Al-Quran pula, Allah SWT berfirman tentang orang-orang Islam terdahulu seperti Surah At-Taubah ayat 100 berikut:


“ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengekori mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka dan mereka pula redha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
(At-Taubah:100)

Yang kami maksudkan ini sememangnya golongan salaf yang hidup dalam tiga kurun pertama hijrah itu dan mereka yang belajar secara bertalaqqi dan bersilsilah sehingga ke golongan salaf itu dan bukannya golongan yang mengaku salafi tetapi silsilah ilmu mereka tidak sampai ke golongan salaf. Golongan ini hanyalah bekerja untuk menuduh umat Islam dengan tuduhan bid’ah, yahudi, khawarij, memasukkan golongan umat Islam ke dalam 72 golongan yang akan masuk ke Neraka dan lain-lain lagi.
يَا رَبِّ يَا عَالِمَ الْحَالْ
يَا رَبِّ عَالِمَ الْحَـالْ

Wahai Allah yang mengetahui hal hamba
O Allah who knows the condition of his servant
إِلَيْكَ وَجَّهْتُ اْلآمـَالْ
Kepada-Mu aku hadapkan segala cita-cita
To You I inform of my ambitions
فَامْنُنْ عَلَيْناَ بِاْلإقْبـَالْ
Kurniakanlah kami nikmat perkenan dari-Mu
Bless us with yyour grace and blessings,
وَكُنْ لَناَ وَاصْلِحِ الْبـَالْ
Serta belas kasihan dan tenteramkan hati kami
And show us sympathy and calm our hearts
يَارَبِّ يَا خَيـْرَ كـَافِي
Wahai Allah yang Maha mencukupi
O Allah who is that Ever Satisfies
اُحْلُـلْ عَلَيْنـَا الْعَـوَافِي
Berilah kami sihat afiat
Give us the Blessings of health
فَلَيْسَ شَيْء ثَمَّ خـَافِي
Kerana tiada yang sulit atas-Mu
As there is nothing to difficult for You
عَلَيْكَ تَفْصِيْلُ وَاجْمـَالْ
Segala sesuatu dalam pengetahuan-Mu
All that is done is with Your Knowledge
وَقَـْد أَتـَاكَ بِعُـذْرِه
Ia telah datang pada-Mu dengan dosa
We have come to you with sin
وَبِانْكِسـَارِهِ وَفَقْـرِه
Dan kesedihan dan kefakirannya
And sadness and infidelity
فَاهْزِمْ بِيُسْـرِكَ عُسْـره
Angkatlah dengan kemudahan-Mu segala kesusahannya
Lift us with Your Ease from our difficulties
بِمَحْضِ جُوْدِكَ وَاْلإِفْضَالْ
Dengan Berkat kemurahan dan kurnia-Mu
With the your Bestowing Awards and Blessings/Generosity
وَامْـنُنْ عَلَيـْهِ بِتَوْبـَةْ
Kurniakanlah padanya taubat
Give to us forgiveness
تَغْسِلْهُ مِنْ كُلِّ حَوْبـَةْ
Yang dapat menghapus segala dosa
That would be able to rid our sins
وَاعْصِمْهُ مِنْ شَرِّ أَوْبـَةْ
Jagalah ia dari segala bahaya
Keep us safe from those that pose danger
لِكُلِّ مَا عَنْهُ قَدْ حـَالْ
Dari segala yang akan menimpa padanya
From all that would befall upon us
فَأَنْتَ مَـوْلَى الْمَـوَالِي
Engkau adalah Tuhan seluruh hamba
You are the Lord of all the servants
الْمُنْـفَرِدُ بِـالْكَمـَالِ
Yang Esa dalam kesempurnaanMu
The One with Perfection
وَبِـالْعُـلَى وَالتَّعـَالِي
Dalam ketinggian dan keagunganMu
With your Height and Supremecy
عَلَوْتَ عَنْ ضَرْبِ الأَمْثَالْ
Maha suci Allah dari semua keserupaan
The Virtuousness of Allah similarly, all that we seek
جُوْدُكَ وَفَضْلُكَ وَبِـرُّكَ
Kemurahan, kurnia, dan kebaikan-Mu
Generosity, Bestowal and Goodness
يُرْجَى وَبَطْشُكَ وَقَهْـرُكَ
Sungguh sangat di harapkan. Murka dan marah-Mu
are those that we wish for. Your Angst and Hatred
يُخْشَى وَذِكْرُكَ وَشُكْـرُكَ
Sungguh sangat di takutkan. Berdzikir dan bersyukur pada-Mu
are those that we fear. Remembrance and Thankfullness of you
لاَزِمْ وَحَمْدُكَ وَاْلإِجْـلاَلْ
Adalah lazim, demikian pula memuji dan mengagungkan-Mu
are things that are habitual, so is praising and to honour and revere you
وَصَـلِّ فِي كُلِّ حَالَـةْ
Selawat pada setiap masa
Supplications at every moment
عَلَى مُزِيْـلِ الضَّلاَلـَةْ
Di atas nabi penghapus kesesatan
to the Prophets who rids those who are astray
مَـنْ كَلَّمَتْـهُ الْغَزَالـَةْ
Kepadanya rusa bercakap
To him did the deer talk to
مُحَمَّدِ الْهـَادِي الـدَّالْ
Iaitu Muhammad penunjuk jalan
He is Muhammad the guide to the path
وَالْحَمْـدُ لِلّـه شُكْـرًا
Segala puji bagi Allah sebagai tanda syukur
All Praise is to Allah and appreciation and gratitude
عَلَى نِعَمٍ مِنْـهُ تَتْـرَى
Atas nikmatNya yang tidak putus
for the never ending pleasure
نَحْمَـدُهُ سِـرًّا وَجَهْـرًا
Kami memuji padaNya dengan rahsia dan terang
Praise him whether in secret or openly
وَبِـالْغَـدَايَـا وَاْلآصـَالْ
Siang malam setiap waktu
Day Night at every moment

Monday, March 03, 2008

Rare Hadith Of Rasulullah SAW

Wahai Manusia , Jangan kamu bercita – cita mencari musuh dan mohonlah kepada Allah akan kesejahteraan , jika kamu bertemu jua ( akan musuh ) maka bersabarlah dan ketahuilah sesungguhnya syurga itu berada dibawah kilatan mata pedang kemudian baginda berdoa :

Ya Allah , tuhan yang menurunkan al kitab , yang memperjalankan awan dan tuhan yang membinasakan tentera ahzab , hancurkanlah mereka ( musuh ) dan berilah kemenangan ke atas kami .

Sohih Bukhari Hadis No. 2804 Juz.3 / muka surat 1082 Cetakan Darul Ibnu Kathir . Beirut
Sohih Muslim Hadis No.1742 Juz 3 / Muka surat 1362 Cetakan Dar Ihya’ Turath al A’rabi. Beirut

Tuesday, February 26, 2008

Telah berkata Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid Al-Ghazali r.a. (minhajul Arifin):

Sesungguhnya, penyingkapan hukum (i'rab) hati itu ada empat jenis:

1.Rafa' (terangkatnya) hati: dalam zikir kepada Allah s.w.t..
2.Fathu (terbukanya) hati: pada redha terhadap Allah s.w.t..
3.Khofhu (jatuhnya) hati: dalam kesibukan dengan selain daripada Allah s.w.t..
4.Waqaf (terhentinya) hati: pada kelalaian daripada mengingati Allah s.w.t..

Tanda rafa' (terangkatnya hati) ada tiga:

Pertama: Adanya keserasian (antara perbuatannya dengan syariat).
Kedua: Lenyapnya percanggahan (iaitu, tidak membuat maksiat).
Ketiga: Sentiasa dalam kerinduan (kepada Alalh s.w.t.).

Tanda fatah (terbukanya hati) ada tiga:

Pertama: Tawakkal
Kedua: Jujur
Ketiga:Yakin

Tanda khofdhu (jatuhnya hati) ada tiga:

Pertama: Ujub
Kedua: Riyak
Ketiga: Tamak, iaitu, terlalu mengejar keduniaan

Tanda waqaf (terhentinya hati) ada tiga:

Pertama: Hilang kelazatan dalam ketaatan
Kedua: Hilang kepahitan maksiat
Ketiga: Mencampurkan antara halal dan haram


Wassalaaam

Monday, February 25, 2008

Hukum Mengundi

Soalan:

Kami tinggal di sebuah Negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Adakah harus bagi seseorang mengundi dan mencalonkan diri dalam pilihanraya Negara ini?

Jawapan:

Tidak harus bagi seorang Islam untuk mencalonkan dirinya untuk menyertai kerajaan yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah (AL Qur'aan dan Sunnah) dan tidak beramal dengan shariat Islam. Maka tidak harus bagi seorang Muslim untuk mengundinya atau mengundi selain daripadanya yang bekerja dalam kerajaan tersebut.

Melainkan jika orang yang mencalonkan dirinya dari kalangan orang Islam dan mereka yang mengundi berhasrat untuk menukar hukum kepada beramal dengan shariat Islam melalui cara memasuki pilihanraya, dan mengambil cara itu sebagai satu jalan untuk menguasai sistem pemerintahan. Orang yang telah berjaya memasuki pemerintahan itu pula tidak bekerja di jawatan-jawatan yang bercanggah dengan shariat Islam.
Fatwa Lajnah Daa'imah yang diketuai oleh Shaikh Ibn Baaz 23/406-407.

Soalan:

Sebagaimana yang pihak tuan sedia maklum, kami di Algeria ini mempunyai pilihanraya tashri'iyyah. Sebahagian parti-parti di sini menyeru ke arah berhukum dengan shariat Islam dan sebahagian lain pula tidak mahu kepada hukum Islam. Maka apa hukumnya mengundi golongan yang tidak mahu menegakkan hukum Islam walaupun dia solat ?

Jawapan:

Wajib bagi orang Islam yang berada di Negara yang tidak berhukum dengan hukum Islam untuk mengerah tenaga dan usaha mereka semampu mungkin untuk berhukum dengan Shariat Islam. Mereka hendaklah berganding bahu dalam membantu parti yang diketahui akan menghukum dengan Shariat Islam.

Adapun membantu orang yang menyeru ke arah tidak melaksanakan shariat Islam adalah tidak boleh malah boleh membawa kepada Kufur berdasarkan kepada firman Allah :
Dan hendaklah engkau menjalankan hukum di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka, dan berjaga-jagalah supaya mereka tidak memesongkanmu dari sesuatu hukum yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu. Kemudian jika mereka berpaling (enggan menerima hukum Allah itu), maka ketahuilah, hanyasanya Allah mahu menyeksa mereka dengan sebab setengah dari dosa-dosa mereka dan sesungguhnya kebanyakan dari umat manusia itu adalah orang-orang yang fasik. Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliah? Padahal kepada orang-orang yang penuh keyakinan tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih baik dari Allah.
(Al Maa'idah 49-50)

Oleh kerana itu setelah Allah menerangkan kekufuran orang yang tidak berhukum dengan shariat Islam maka Allah memberi amaran agar tidak membantu mereka dan tidak mengambil mereka sebagai penolong/kawan/ pemimpin. Lalu Allah memerintahkan orang-orang beriman agar bertaqwa jika mereka benar-benar beriman.

Maka Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang yang menjadikan agama kamu sebagai ejek-ejekan dan permainan dari orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum kamu dan orang-orang kafir musyrik itu: Menjadi penolong-penolong dan bertakwalah kepada Allah, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
(Al Maa'idah 57)

Wabillahittawfiiq. Wa Sollallah `ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wa sohbihi wa sallam.

Fatwa Lajnah Daa'imah yang diketuai oleh Shaikh Ibn Baaz 1/373-374
Diterjemah pada 9 Safar 1429 H.

http://www.alifta. com/Search/ ResultDetails. aspx?view= result&fatwaNum=&FatwaNumID\ =&ID=10720&searchScope= 3&SearchScopeLeve ls1=&SearchScopeLeve ls2=&highLight= 1&Sea\ rchType=EXACT&bookID=&LeftVal= 17343&RightVal= 17344&simple=&SearchCriteria= Allwor\ ds&siteSection= 1&searchkeyword= 2161632171340322 1713821713021713 6217133217136216 1\ 6703221616821616721 7132216170217131 2161672161702171 29#firstKeyWordFound
Kelembutan Penyeri Peribadi

Ustaz Umar Tilmisani rahimahullah berkata:“Apabila melakukan teguran, Imam syahid Al-Banna menuturkan kata-kata teguran yang lemah lembut dengan suara yang halus dan tidak dengan nada yang tinggi. Beliau akan menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan tanpa menyakiti atau mengguris hati ikhwah.”

“Di saat senang, beliau memanggilku dengan namaku sahaja… Wahai Umar.”
“Namun, apabila ada sesuatu yang menyimpang dan harus diperbetul dan diluruskan, maka beliau akan memanggilku dengan panggilan… Wahai Ustaz Umar.”

“Apabila terdengar sahaja panggilan itu, maka saya akan segera menyedari bahawa ada hal yang tidak menyenangkan atau ada perkara yang perlu saya perbetulkan. Maka saya akan segera berkata, Apa yang terjadi?”

Beliau membalas pertanyaan dengan simpulan dan kuntuman senyum yang indah mekar di bibir. Sehingga apabila melihat wajahnya, maka sesiapa yang sedang marah, maka perasaan geramnya pasti akan reda dan hilang. Lalu, beliau akan menyampaikan isi tegurannya dengan bahasa yang lembut yang menyentuh hati dan juga menyenangkan jiwa yang mendengar.”

Di kala ambang peperiksaan makin menggundahkan hati dan perasaan kita, emosi dan jiwa seseorang itu sememangnya mudah terusik dan terguris. Maklum dengan suasana getir dan tegang di kala peperiksaan menyebabkan hati menjadi sedikit keras dan statik. Kurangnya kedinamikan yang boleh melentur hati supaya menyemai rasa berlapang dada dan lebih terbuka kepada salah silap mahupun sikap yang mungkin sedikit keras oleh rakan kita. Syaitan akan lebih mudah untuk meniup rasa dengki dan nafsu amarah akan makin membuak-buak api kemarahannya dimangkin oleh hasutan syaitan.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menghadapi perasaan marah ini berdasarkan hadith dari Sulaiman Bin Shurad:

“Saya duduk bersama Nabi s.a.w. dan di situ ada dua orang yang saling bermaki-makian antara seorang dengan kawannya. Salah seorang dari keduanya itu telah merah padam mukanya dan membesarlah urat lehernya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya saja niscayalah mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkannya, tentulah hilang apa yang ditemuinya -kemarahannya, yaitu andaikata ia mengucapkan: “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim,” tentulah lenyap apa yang ditemuinya itu. Orang-orang lalu berkata padanya - orang yang merah padam mukanya tadi: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang direjam.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Selain itu, Rasulullah pernah bersabda bahawa:
“Seseorang yang kuat di kalangan sesuatu kaum bukanlah orang yang dapat mengalahkan semua orang di kalangan kaumnya tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang dapat menahan dirinya daripada berasa marah.”

Allah turut berfirman dalam Surah Ali ‘Imran, ayat 134:“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(Surah ali-’Imran [3]:134)

Sememangnya menjadi suatu signifikan buat kita para daie untuk mengikis sifat marah dan memupuk serta menyemai subur sikap lemah lembut dalam diri. Menjadi suatu bekalan yang sangat penting buat kita dalam jalan yang penuh dengan liku-liku ini di mana, sifat lemah lembut mampu untuk menarik manusia kembali kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap yang lemah-lembut dalam segala perkara.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Allah turut berfirman dalam Surah Furqan,
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (iaitu mereka mengucapkan salam).”
(Surah al-Furqan [25]:63)

Jelas di sini bahawa kita perlu bersikap lemah lembut dalam semua perkara. Hatta khudwah hasanah kita yang kita junjungi, Rasulullah SAW sentiasa bersikap lemah lembut. Baginda mungkin pernah bersikap tegas, tetapi semuanya dengan nada yang lembut dan sangat menyentuh hati.

Perlu kita ingatkan bahawa dalam kita sibuk mengejar manusia dan menulis manusia, dalam keghairahan kita, adakah kita telah mengkorporasi sikap lemah lembut dalam teknik dakwah kita? Mungkinkah teguran kita terlalu tegas? Adakalanya, mungkin difikirkan bahawa kata-kata yang diucapkan adalah bersesuaian dan menepati situasi, namun, setiap manusia mempunyai perasaan yang berlainan.

Seseorang itu mungkin mudah terusik atau terguris walaupun kata-kata yang diucapkan langsung tidak mempunyai unsur-unsur kasar mahupun kata-kata tajam yang mampu menusuk jiwa. Seringkali dirasakan bahawa kata-kata yang diucapakan seolah-olah kata-kata yang biasa atau madah nasihat yang mudah untuk diterima. Namun, persoalannya, adakah kita pernah terfikir dengan perasaan orang tersebut. Semangat kita yang tinggi mungkin secara tidak sengaja boleh menorah luka perasaan di jiwa ikhwah yang lain. Maka berhati-hatilah dalam usaha kita untuk menegur, malah di kalangan ikhwah sendiri. Jangan semangat yang menjulang tinggi menyebabkan kita kabur terhadap perasaan ikhwah di sekeliling.

Malah Syed Qutb pernah berkata:
“Kita menyeru dan memerangi manusia dengan kasih sayang dan lemah lembut. Nampak seperti ironi, namun itulah hakikat yang perlu kita implementasikan.”
Kata-kata beliau ditujukan buat daie-daie muda yang penuh dengan semangat tetapi risau jika disalurkan pada saluran-saluran yang terselitnya rasa marah. Impak yang lebih teruk ialah, orang yang diseru mungkin akan lari dan menyebabkan usaha kita sia-sia malah dikutuk oleh Allah.

Rasulullah bersabda:
“Berikanlah kemudahan dan jangan mempersukarkan. Berilah kegembiraan dan jangan menyebabkan orang lari.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Semoga kita lebih peka dengan perasaan dan jiwa sahabat-sahabat kita. Namun, jadikan ia sebati dalam diri supaya berkat izin Allah, moga kita praktikkan selalu.